Kenapa Aku Sangat Mencintaimu

Minggu sore yang sangat suram buat saya. Sendirian di kosan. Buku dan diktat kuliah berserakan di meja, kasur, lantai. Saya merasa hilang kesabaran. Sudah dibaca berulang kali, tidak juga mengerti. Coba belajar yang lain, sama juga. Cuma kesal yang saya dapat. Saya wa suami saya.

Saya: Abiii… kapok. Apaan sih ini, ga ngerti deh. Rumus semua, ga jelas buat apa. Umi ga mau tersesat lagi. Lulus dari sini umi mau ngerjain smua yang umi suka. Aduh abi, kalo ga inget abi dan alfath rasanya umi pengen nyerah aja.

44 menit kemudian

Abi: AYo semangat umi… Betapa bangganya bapak dan ibu umi ketika anaknya dapat beasiswa S2. Abi juga bangga punya istri yang luar biasa. Udah mau S2. Ayo jalani dengan ikhlas…

Dan… tes… neteslah air mata saya. Terkadang kita sebagai manusia memang hobi mengeluh, gak bersyukur sama apa yang sudah dikaruniakan Allah untuk kita.

Abi, you really made up my day. Always. I love you.

Sebelum Menikah

Persis seperti yang saya lakukan dulu :) ekavitriacamelia.blogspot.com

Persis seperti yang saya lakukan dulu πŸ™‚ Gambar dari ekavitriacamelia.blogspot.com

Postingan ini terinspirasi dari blognya @orirabowo. Salut baca isi blognya. Kalau yang saya tangkap sekilas, tentang seorang anak muda yang sedang belajar mendekatkan diri kepada Allah. Inspiratif, coba deh mampir kesana :).

Ada beberapa postingan tentang cinta disana. Kebetulan penulisnya belum menikah. Masih muda, belum menikah, saya yakin pasti banyak gejolak perasaan yang timbul disana.

Jadi ingat masa remaja dulu. Ups, oh iya, saya udah ga remaja lagi. Masa remaja sudah terlewati 10 tahun lalu. Time really flies πŸ™‚

Saya kerapkali nyinyir di sosmed tentang pacaran. Ini bukan karena mentang-mentang saya udah menikah. Ini karena saya pernah melakukannya dan sama sekali tidak mendapat manfaat dari kegiatan itu. Ah saya mau cerita perjalanan cinta saya ah. Suamiku sayang, jangan cemburu ya baca ini πŸ™‚

Kapan pertama kali suka sama cowok? Haha, SD!

Berapa cowok yang pernah kamu suka? Banyak. Dulu saya pernah punya listnya. Konyol dan entah apa yg ada di pikiran saya bisa sampe suka ma cowok2 itu X)

Berapa cowok yang udah nembak kamu? Hmm… Lupa sayaaah… dulu jg saya punya listnya… Dulu ini seperti menunjukkan ‘prestasi’. Makin banyak cowok yg nembak kamu, berarti kamu makin keren. Weleh weleh. Konyol.

Kapan pertama kali pacaran? Kuliah tingkat 2

Berapa lama kamu pacaran? Dua bulan

Apa aja yg kamu lakukan saat pacaran? Cuma telpon, sms, chat dan surat2an aja. Ga pernah ketemuan. Ga pernah ada kontak fisik.

Lhoh???? Iya. Dia temennya temen saya. Beda kota beda provinsi.

Oke. Dulu saya belum ngerti. Dulu saya cuma penasaran aja dan merasa malu karena belum pernah ngerasain pacaran. Dulu saya memang labil, jangan diikuti yah.

Pacaran. Walau cuma seperti yang saya lakukan, tanpa ketemuan sama sekali dan tanpa kontak fisik, tapi bukan berarti ga mendekati zina. Ga usah muna, kita yang udah remaja pasti udah punya nafsu. Walaupun katanya pacarannya sambil ngingetin untuk shalat, puasa senen kamis, shalat dhuha, tahajud, sedekah dll. Itu semua cuma kedok. Kedok supaya terlihat alim dan manis di depan pacar, supaya pacar jadi makin sayang dan lengket sama kita. Padahal saat ibadah ya gak khusuk, yang dipikirin dia lagi dia lagi. Lebih banyak nafsu yang memegang kendali. Jujur aja deh, pasti kamu pernah mikir enggak2 atau berfantasi tentang dia. Pokoknya pacaran itu cuma mengotori hati dan jiwa.

Bersyukurlah kamu yang sampai saat ini belum pernah ditembak cowok. Bersyukurlah kamu yang nembak trus ditolak sehingga ga jadi terjerumus dalam maksiat pacaran. Bersyukurlah kamu yang merasa punya penampilan biasa saja sehingga ga banyak lawan jenis yang tertarik sama kamu. Bersyukurlah kamu yang belum pernah pergi berduaan dengan lawan jenis, pegangan tangan apalagi ciuman. Kelak kamu akan menyadari bahwa itu sia-sia dan kamu akan menyesal tidak bisa mempersembahkan jiwa dan raga yang suci untuk pasangan halalmu kelak.

Adek-adek yang manis, seperti kata Darwis Tere Liye;

Punya pacar itu bukan prestasi.
Tidak bisa dimasukkan dalam raport, ijasah apalagi CV. Juga tidak masuk dalam cita2.
Jadi saya kira, itu jelas bukan prioritas yg harus dikejar di usia remaja kita yg penuh kesempatan menggapai mimpi.

Lantas bagaimana ceritanya saya bisa insyaf pacaran?

Setelah putus, saya dipinjami buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan. Alhamdulillah hidayah datang melalui buku ini. Saya juga berteman dekat dengan beberapa akhwat, alhamdulillah banyak hidayah yang datang melalui pertemanan saya ini, perlahan namun pasti.

Jadi, gimana kisahnya bisa bertemu suami dan menikah?

Setelah baca buku itu, saya mupeng semupeng2nya pengen menikah muda. Nah, jadi kalau ada laki-laki yang datang mendekat (maksudnya ada ‘maksud’ gitu), saya dengan tegas akan bilang, saya ga mau pacaran, saya maunya menikah. Nah laki-laki yang niatnya cuma main-main pasti akan ambil langkah seribu. Silahkan dicoba. Kebetulan suami saya, begitu ditantang malah makin ‘bandel’, bukannya mundur malah langsung ngajak nikah. Walaupun kami tidak pacaran namun proses kami masih jauh dari syar’i. Semoga kami bisa mendidik anak-anak kami kelak supaya bisa memahami Islam lebih dini. Aamiin πŸ™‚

Saya Pengen Kuliah S3!

Jumat adalah hari yang sangat membahagiakan. Kuliah Analisis Regresi bersama dosen favorit πŸ™‚

Saya ingin menuntut ilmu lebih tinggi lagi. Bukan untuk gengsi, tapi untuk aktualisasi diri. Saya ingin berhenti menjadi robot akademis yang sekedar menggunakan rumus tanpa tahu bagaimana esensi dari rumus itu.

Saya ga mau ambil jurusan statistika lagi. Saya ingin ambil demografi, kesejahteraan sosial, sosiologi atau ekonomi. Saya ingin melihat dunia dengan lebih luas lagi. Belajar berbagai teori yang belum pernah saya pahami, belum pernah saya dengar. Saya ingin memadukan semua itu dengan basic ilmu statistika yang saya miliki. It would be perfect πŸ™‚

 

 

 

Baca ini dulu sebelum mengeluh! :)

-Copas dari Grup FB Dono Baswardono Parenting. Terasa menohok banget buat saya yang hobi ngeluh ini itu, capek, bla bla bla…

TERIMAKASIH TUHAN

Tuhan, terimakasih atas piring-piring kotor ini; kami bisa sarapan, makan siang dan makan malam dengan makanan yang enak-enak dan menyehatkan.

Terimakasih Tuhan, ada sebukit cucian berbau keringat; kami sekeluarga punya pakaian indah untuk dikenakan dalam segala kesempatan.

Dan aku juga berterimakasih kepadaMu Tuhan atas ranjang yang spreinya berantakan itu; semalam tidur kami nyenyak di atas ranjang empuk dan hangat, sementara banyak anak dan manula kedinginan di luar sana.

Terimakasihku Tuhan untukMu atas kamar mandi ini, yang dilengkapi dengan cermin, sabun wangi dan handuk lembut; semuanya begitu nyaman dan menenangkan hingga aku berlama-lama berendam di dalam kehangatannya.

Terimakasih juga atas kulkas kotor yang penuh bekas jari tangan ini, yang bunga esnya begitu tebal, setia menemani kami bertahun-tahun. Kulkas ini penuh dengan minuman dingin dan makanan kaleng untuk beberapa minggu – dan sisa-sisa makanan beberapa hari ini yang tetap saja kusimpan.

Terimakasih Tuhanku atas oven yang jelas harus dibersihkan hari ini. Dia telah membakar begitu banyak makanan dan kue-kue yang disukai anak-anak.

Seluruh isi keluarga ini berterimakasih kepadaMu, ya Tuhan, atas rumput yang telah meninggi di halaman. Kami semua suka sekali bermain dan berolahraga di halaman itu. Bahkan, kami juga menjamu teman-teman kami di sana.

Tuhanku, hanya kepadaMulah kuhadirkan rasa terimakasih ini atas mobil yang sudah seminggu ini belum dicuci dan belakangan ini suka mogok. Ia telah mengantarkan kami sekeluarga menempuh ribuan kilometer suka dan duka.

Terima kasih Tuhan atas sepeda yang kini teronggok di gudang dan menunggu perbaikan. Anak-anakku yang sehat telah mengarungi petualangan mereka untuk merasuki keriangan mereka.

Tuhan, terimakasih atas meja kerja yang berantakan ini. Aku telah Engkau sanggupkan untuk menggenggam karier cemerlang ini yang membantu keluarga kami menjalani hari-hari mengasyikkan.

Tuhan, setumpuk tugas dan pekerjaan yang tengah menungguku ini membisikkan kepadaku bahwa Engkau melimpahruahkan kasih karuniaMu bagi keluarga kami. Karena itu, aku akan mengerjakan semuanya dengan hati penuh suka cita dan rasa syukur. DB

Jangan ngomel lagi ya kalo liat cucian piring numpuk :). Gambar dari mamapiadea.com

Jangan ngomel lagi ya kalo liat cucian piring numpuk :). Gambar dari mamapiadea.com

Nasi Goreng Mafia

Saya baru saja sembuh dari diare. Ga tanggung-tanggung, saya diare selama 7 hari! Waw!

Kalau ditilik-tilik, selama 3 bulan jadi anak kos, saya emang suka asal beli makanan. Walaupun sudah mencanangkan food combining ala anak kosan, tapi tetep yah walaupun secara menu sudah sehat, tapi harus diperhatikan juga kehigienisannya.

Di sebelah kampus Unpad banyak berjejer warung tenda. Ga cuma di situ aja, pada umumnya warung tenda atau penjual makanan pinggir jalan memang memakai peralatan yang serba minimalis. Saat saya makan di tempat seperti itu, terus terang hati kecil saya menjerit melihat tumpukan cucian piring di sebelah ember berisi air yang ala kadarnya. Cuma seember air untuk mencuci segunung cucian piring itu. Entah pake sabun atau enggak. Bisa jadi asal celup aja trus dilap dengan lap yang entah bersih apa enggak. Bisa dibayangkan jutaan bakteri yang berada di alat makan itu. Hiii

Walau awalnya kurang sreg, tapi yah karena teman2 saya makannya disitu, saya jadi ngikut. Daripada makan sendirian. Lemah banget T_T

Siang itu kami makan mie ayam di samping kampus. Mie ayamnya standar sih, lumayanlah. Pas bayar saya heran. Cuma 6000 perak. Helllow masih ada ya mie ayam 6000 perak. Saya husnudzan aja sama akangnya. Dari penampilan akangnya ikhwan banget, berjenggot dan pas ngasi uang kembalian menjaga banget supaya tangan kami ga bersentuhan. InsyaAllah bener lah jualannya. Mungkin badan saya aja yang lagi kurang fit.

Sorenya, pulang dari kampus, mendadak saya mules2 dan diare. Biasanya saya males minum obat, tapi karena esok harinya kami mau jalan2 ke Ciwidey, maka belilah saya Diapet dan Entrostop. Alhamdulillah ini diare pengertian banget sama saya. Dia kumatnya kalau saya lagi di rumah aja. Kalau saya lagi jalan-jalan atau kuliah, diarenya jinak. Tapi kalo di kosan? Ugh, ampun deh.

Hahaha, jadi apa hubungan diare dan Nasi Goreng Mafia?

Semenjak diare, saya jadi parno ga mau makan di pinggir jalan lagi. Saya cari tempat makan yang bersih dan peralatan makannya dicuci di air mengalir, bukan asal celup aja ke ember. Selama seminggu saya menghindari makanan pedas. Dan begitu diare sembuh, saya pun bisa makan pedas lagi! πŸ™‚

Di dekat kampus ada beberapa rumah makan yang pengen banget saya coba. Salah satunya Nasi Goreng Mafia. Akhirnya tadi, sepulang kuliah saya mampir kesana.

Menunya ada beberapa macam, semuanya nasi goreng:

1. Yakuza: nasi goreng dengan campuran bumbu kikil dan cabai hijau asli;

2. Triad: nasi goreng dengan campuran ebi dan cabai merah asli;

3. Preman: nasi goreng dengan bumbu kencur dan campuran sayuran hijau segar;

4. Gangster: nasi goreng dengan campuran bumbu rempah paling banyak, terdiri dari 15 bahan dan tampilannya hitam pekat;

5. God Father: nasi goreng dengan campuran kecap kedelai berkualitas dan bawang merah segar.

Saya pilih preman level menggoda (level 1). Alasannya karena ada sayurannya. Level 1 saya pilih karena takut kepedesan aja. Pedesnya orang Bandung gila2an bok. Rawit merah.

Nasgor Preman. Timunnya udah saya makan duluan :)

Nasgor Preman. Timunnya udah saya makan duluan πŸ™‚

Nasgor ini pake bumbu kencur, berisi telur, ayam suwir, potongan kangkung, daun bawang dan 3 iris timun. Rasanya enak, mirip dengan nasgor kencur buatan ibu saya. Beugh level 1 aja pedesnya udah kayak gini, gimana yang level 5 yah… Saya sebenernya bukan penggemar nasi goreng, tapi nasgor mafia ini boleh dicoba lah πŸ™‚

Oia, harganya 13500 perak, plus air mineral botol 600ml 300 perak. Dari harga masih terjangkau lah ya πŸ™‚

Alhamdulillah, Masuk 45 Besar!

Berawal dari hobi browsing suami saya yang kala itu lagi banyak waktu senggang (kalo ga dibilang lagi ga banyak kerjaan. hehe), jadilah ia cari-cari sesuatu yang bisa dijadikan peluang. Ketemulah sama lomba Philips ini. Kita boleh mengirimkan ide tentang inovasi bangun desa, inovasi kesehatan dan inovasi ibu. Semangatlah ia setiap hari dengan ide-idenya yang cemerlang. Bahkan beberapa idenya dikirimkan pake nama saya. Saya waktu itu cuma disuruh ngedit tulisan suami saya aja, karena saya memang lagi stuck banget sama perkuliahan yang padat dan tugas yang bejibun. Saya cuma bisa dukung ide2 suami saya aja. Saya aja takjub karena adaaaa aja ide yang didapat sama suami saya ini ^_^

Trus, kenapa saya akhirnya jadi ikut menyumbang ide? Yah sebenernya sih ini ide awalnya dari suami saya juga. Kami lagi pillow talk by phone (ehemmm yg LDR), ngomongin tentang Alfath, tentang buku parenting yang baru kami baca, dan muncullah ide ini. Dan saya jadi ga tahan untuk ga menuliskannya. IdenyaΒ ini, berasal dari pengalaman pribadi πŸ™‚

Laluuu ide saya masuk menjadi salah satu ide terbaik di minggu ke-8 (atau ke-9 yah? lupa). Gimana perasaan saya? Biasa ajah. Hehehe. Sbenernya akan lebih senang kalo suami yg dapet, karena suami yg semangatnya membara. Eh, gak bersyukur amat yak. Enggak kok, bersyukur, cuma ga percaya aja dan huhuuu takut konsekuensinya. Kalo sekedar nyumbang ide dan dapat hadiah, it’s ok, ga ada yang dipikirin lagi. Nah kalo ini, semakin juara maka kita harus mewujudkan ide tersebut. Haduuuh apaan sih saya, cemen banget, belum apa2 udah kepedean bakal kepilih jadi juara. hahaha

Nama saya ada list ini :)

Nama saya ada list ini πŸ™‚

Alhamdulillah, begitu dapet email konfirmasi dari Philips yang menanyakan alamat untuk pengiriman hadiah, baru deh seneng. Ga disebutin hadiahnya apa, cuma katanya produk Philips gitu. Suami suka godain, umi dapet microwave tuh. hohoho, ngarep. Hadiah hiburan pun, ga mungkin microwave :D. Minggu depan insyaAllah hadiahnya dateng. Can’t wait to unwrapped it! πŸ™‚

Haiyaaa… saya dapet setrika uap yang bisa dipakai untuk menyeterika baju yg digantung… Alhamdulillah πŸ™‚

(Bukan Mengeluh)

miss meAwal bulan, dan saya merasa sensitif sekali. Uuuugh my period…

Diawali dengan Senin dengan Teori Statistik, dimana sang dosen ngajar sambil mbaca slide yang penuh rumus, dimana rumus2 dan penjelasan dosen seakan berada di dunia dengan empat dimensi yang entah ada di sudut mana…

Saya merasa salah jurusan. Dari kecil, saya terbiasa bisa melakukan sesuatu berulang-ulang sampai saya bisa. Saya bisa karena biasa. Kalau teman-teman saya sekarang banyak yang dasarnya suka matematika, saya enggak. Saya belum pernah memproklamirkan diri sebagai pecinta matematika. Saya juga ga benci matematika. Kadang saya pun menikmati proses penurunan rumus yang njelimet itu. Saya menikmati mengerjakan matematika. Tapi serius deh, ga pernah terpikir sama sekali kuliah jurusan statistika seperti sekarang ini! Huhuhu… Yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurut Allah. Dan mungkin jurusan ini yang terbaik yang dipilihkan Allah buat saya (Nah, kalo mikirnya gini kan hati jadi adem, tenteram πŸ™‚ )

Saya kangen masak, saya kangen menjahit, saya kangen berkebun, saya kangen merangkai warna-warni ceria menjadi sebuah bentuk. Saya kangen itu semua. Saya kangen diri saya, saya kangen hobi saya, saya kangen panggilan jiwa saya. Saya kangen…

Saya terlanjur berada disini, insyaAllah saya akan menyelesaikannya denganΒ  sebaik mungkin. dan lepas dari sini, saya akan kembali menjadi diri saya ^_^