Cobaan di Awal Ramadhan

Suatu pagi di Jakarta, tiga hari menjelang Ramadhan, saya bermimpi Alfath masuk rumah sakit. Di dalam mimpi itu saya menangis, dan saat saya terbangun pun mendapati mata saya sembab dan basah. Ternyata saya beneran nangis. Ah, mimpi kan bunganya tidur. Saat itu Alfath masih tertidur pulas. Saya pegang keningnya. Suhu badannya normal. Alhamdulillah cuma mimpi. Alfath sehat2 saja. Sehat terus ya sayang, nanti malam Abi datang…

Malamnya sekitar jam 11 malam, suami saya datang. Suami ingin merasakan Ramadhan pertama bersama kami setelah 2 bulan tidak bertemu. Paginya, Alfath terlihat salah tingkah karena ada Abinya. Anak ini kangen, tapi mungkin dia jadi bingung sendiri karena sudah 2 bulan ga ketemu Abinya. Biasanya cerewet dan suka nyanyi teriak2, ini mendadak jadi kalem. Suka mondar mandir di dekat Abinya tapi ga ngomong apa2. Sekitar jam 9 pagi, odong-odong langganan Alfath lewat. Biasanya setiap pagi Alfath selalu naik odong2 ditemani Utinya. Tapi pagi ini entah kenapa, rasanya saya dan suami malaaaas sekali keluar rumah. Alfath pun menangis keras karena keinginannya tidak kesampaian. Tukang odong2nya pun sudah terlanjur pergi jauh. Lumayan lama Alfath menangis. Habis menangis, Alfath terlihat lemaaas sekali, ga aktif seperti biasa. Tidur2an saja di kasur. Ditawari apa2 ga mau. Akhirnya ia pun tertidur pulas. Badannya agak hangat.

Siang harinya, suhu tubuhnya makin tinggi dan ia muntah beberapa kali. Rewelnya minta ampun, mungkin karena tubuhnya terasa tidak nyaman. Karena muntah2 itulah, akhirnya sekitar jam 2 siang saya dan suami mengajaknya berobat ke klinik 24 jam di dekat rumah. Alfath diberi obat demam, anti mual dan obat batuk. Dokter menyarankan jika setelah 2 hari masih demam, coba dicek darah di lab. Dalam dua hari itu demamnya sudah turun, muntahnya jauh berkurang namun sempat beberapa kali mimisan. Di hari ketiga Alfath sudah tidak demam, muntah dan mimisan lagi namun sepertinya belum pulih karena masih lemas sekali dan tidak mau makan.

Saya dan suami sempat berdebat karena saya merasa ada yang tidak beres dengan kondisi Alfath. Saya ingin Alfath dites darahnya. Saya takut Alfath kenapa2. Sementara suami saya tidak setuju, menurutnya Alfath sudah tidak demam lagi dan insyaAllah akan segera sembuh. Suami ga tega melihat Alfath diambil darahnya. Saya sampai menangis. Saya risau, suami besok akan kembali ke Pekanbaru sementara Alfath masih sakit dan kasihan juga sama ibu karena Alfath kalau lagi sakit begini minta digendong terus sama Utinya. Saya takut Alfath kenapa2.

Akhirnya di hari ke-4, Senin pagi, kami membawa Alfath ke lab terdekat. Alfath memang meronta dan menangis keras saat darahnya diambil. Pembuluh darah Alfath kecil dan tersembunyi, jadi mesti beberapa kali tusuk baru bisa dapat darahnya :(. Hasil tes darah hari itu, trombosit Alfath 122.000 (normal minimal 150.000). Saya ragu apakah harus membawa Alfath ke dokter lagi atau tidak. Akhirnya saya bertanya pada teman saya yang seorang dokter. Kata teman saya, kemungkinan Alfath kena Demam Dengue (belum sampai DBD). Bisa dirawat di rumah, yg penting cairannya cukup. Nah ini yang susah. Alfath ga mau makan, minum susu cuma sedikit, minum air putih pun dia ga mau. Kebetulan sorenya suami saya harus pulang ke Pekanbaru. Dengan berat hati saya melepas suami saya pergi.

Di hari ke-5, belum ada perubahan pada Alfath. Alfath makin terlihat lemas. Sore harinya Alfath saya bawa ke klinik 24 jam lagi. Saya sempat dimarahi dokter karena trombosit Alfath di ambang batas, kenapa ga langsung dibawa ke klinik lagi. Saya bilang, saya sudah berkonsultasi pada teman saya yang juga seorang dokter. Nah untuk memastikan kembali, Alfath harus tes darah ulang sore ini juga. Kuatir Alfath DBD, yang kalau penanganannya tidak memadai trombositnya bisa terus turun dan bisa menyebabkan kematian. Hasil tes darah Alfath, trombositnya 90.000 dan positif typus. Typusnya pun tubek 6 (saya kurang mengerti, mungkin ini semacam level typus. Kata dokter tubek 6 ini setara dengan level typus orang dewasa. Anak2 biasanya sudah positif typus pada tubek 4. Berarti typus Alfath tergolong sangat serius). Padahal sehari sebelumnya tidak ada typus di hasil tes darahnya. Tidak ada pilihan lain, Alfath harus dirawat malam ini juga. Saya sedih, menangis dan menyesal. Terasa berat karena suami tidak ada di sebelah saya.

Saya memilih RS Muhammadiyah Taman Puring karena dekat dengan rumah dan biayanya masih terjangkau. Malam itu, pukul 8 saya membawa Alfath ke RS. Tidak tega melihat Alfath menangis kesakitan saat dipasang infus. Dia bilang,”Udah Umi, pulang…” Ah sayang, betapa tidak tega Umi melihatmu seperti ini. Seandainya penyakitmu bisa dipindahkan ke tubuh umi…

Saya menjaga Alfath berdua dengan ibu saya. Biasanya ibu saya baru datang menjelang Isya sampai habis Shubuh. Dari pagi sampai sore saya yang menjaga Alfath sendirian. Sangat berat mengingat ini adalah bulan puasa. Saya pun takut Ibu saya sakit karena kecapean. Alfath sangat dekat dengan Utinya. Kalau ada Utinya, Alfath jadi minta digendong Utinya terus. Alfath sepertinya trauma dengan RS. Dia ga mau tidur di kasur. Dia maunya tidur sambil digendong atau dipangku. Bisa dibayangkan luar biasa capeknya kami. Pegal dan kram demi Alfath bisa tidur dengan nyenyak.

Hari ke-6 pagi, trombosit Alfath turun menjadi 86.000. Alfath makin rewel dan sama sekali ga mau makan. Minum susu hanya sedikit, minum air putih juga susah. Sorenya trombositnya masih tetap segitu. Ga tega melihat Alfath diambil darah 2 kali sehari seperti itu :(. Kedua kakinya pun bengkak. Sedih sekali melihat kondisi Alfath. Di saat seperti ini, saya harus kuat melaluinya tanpa suami.

Hari ke-7 pagi, trombosit Alfath masih rendah juga. Saya cemas. Padahal Alfath sudah diberi cairan infus untuk meningkatkan trombosit, tapi kok ya tetep aja belum naik. Kata perawat, ini wajar karena pada DBD biasanya trombosit akan mulai naik kembali pada hari ke-7. Sore harinya, trombosit Alfath meningkat sedikit menjadi 87.000. Ada sedikit harapan namun tetap saja hati ini tidak tenang. Malam harinya, tangan Alfath bengkak dan tidak bisa menerima cairan infus lagi. Infus terpaksa harus dibuka. Ga tega melihat tangan Alfath yang bengkak dengan pembuluh darah yang membiru :(. Karena tidak diinfus, Alfath diberi obat ekstra sebagai pengganti cairan infus.

Hari ke-8 pagi, Alfath terlihat jauh lebih sehat. Sudah mau makan semangka, puding, minum susu dan air putihnya sudah mulai banyak. Sudah mulai lincah jalan kesana kemari. Hasil tes darahnya pun menggembirakan, sudah 100.000 :). Alhamdulillah. Kata dokter, kalau tes darahnya sudah di atas 150.000, Alfath boleh pulang besok. Alhamdulillah, di saat saya dan ibu saya mulai teler karena kurang tidur, Alfath sudah mulai mau tidur di kasur. Tidurnya pun sudah lebih tenang. Siang harinya, saat saya menjaga Alfath sendirian, syaa merasa tubuh saya sangat lemas, kepala pusing dan berkunang-kunang seperti mau pingsan. Ingin rasanya membatalkan puasa karena sudah tidak kuat lagi, namun saya cuma punya stok air putih, tidak ada makanan. Mau beli roti ke bawah, rasanya sudah tidak kuat bangun dan ga mungkin juga Alfath ditinggal sendirian di kamar. Ga ada yang bisa dimintain tolong. Saya menelpon suami saya sambil menangis. Ya Allah, cobaanmu begitu berat. Di saat saya sudah hampir pingsan, untung saja Alfath tertidur. Saya jadi bisa ikutan tidur di sebelah Alfath. Kepala saya yang berat lumayan terasa ringan.

Hari ke-9 pagi, trombosit Alfath sudah naik jadi 169.000! Alhamdulillah ya Allah dan Alfath boleh pulang hari ini. Si kecil Alfath keluar dari RS malah makin gemuk dan berat lho, cairan infusnya bergizi kali ya.. hehehe. 4 malam menginap di RS, biaya yang dikeluarkan 4juta. Alhamdulillah uang rapel TB Umi kemarin memang rejekinya Alfath πŸ™‚

Pengen masukin foto tapi sinyalnya jelek euy…

Hikmah yang didapat dari ujian di awal Ramadhan ini:

1. Hati2 kalau anak demam, muntah, mimisan dan terlihat lemas lebih dari dua hari. Alfath biasanya kalau demam biasa akan sembuh maksimal dalam 2 hari. Lebih dari itu, kita sebagai orangtua harus waspada. Periksa ke dokter, tes darah. Alfath sudah tergolong terlambat ditangani. Di RW kami, Alfath adalah anak ke-11 yang terkena DBD.

2. Jaga makan anak. Padahal Alfath makannya sudah sangat dijaga. Semuanya serba homemade. Ternyata eh ternyata kita mesti aware sama botol susunya, dotnya. Harus diganti 6 bulan sekali. Anak kecil biasanya suka megang macem2 dan lalu dimasukkan ke mulut. Kemungkinan Alfath kena dari situ. Tangannya tuh gratil banget dan suka susah diajak cuci tangan. Kami mendapat pelajaran berharga dari sini. Iklan sabun lifebuoy tentang cuci tangan ternyata sangat benar adanya πŸ™‚

3. Allah tidak akan memberi cobaan diluar kemampuan hambaNya. Awalnya saya sangat risau dengan biaya RS, mengingat tetangga ada yang anaknya habis dirawat di RS dengan penyakit yang sama dan habisnya sekitar 9 juta. Pusing sekali memikirkan biaya ini, apalagi 3 hari pertama kondisi Alfath belum kunjung membaik. Eh ternyata rejeki Allah mengalir terus. Biaya RS “hanya” 4 juta, dan alhamdulillah begitu Alfath keluar dari RS, saya masih bisa membayar semua kewajiban saya (KPR, asuransi, arisan, bayar ini-itu), dan saldonya masih ada sisa yang lumayan banyak. Dan ALfath yang tadinya cuma mau nempel sama Utinya, sekarang jadi dekat juga dengan saya πŸ™‚

Allah memang Maha Baik ya πŸ™‚

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s