Sidang Tesis Sudah Berlalu

Slide sidang saya yang mendapat pujian dari penguji dan pembimbing. Ahai, sedap :)

Slide sidang saya yang mendapat pujian dari penguji dan pembimbing. Ahai, sedap πŸ™‚

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Tesis. Hal itu yang membuat blog saya ini terbengkalai beberapa bulan terakhir. Selesai sidang rasanya legaaaaa sekali :). Mau cerita ah tentang perjalanan tesis saya.

Bagaimana awal mula menemukan topik penelitian? Woohoo ini yang paling bikin galau. Cari topik tesis udah kayak cari jodoh deh. Ngubek2 tesis pendahulu di perpustakaan, wuih ngeri judulnya. Statistik banget. Kami diwajibkan menggunakan pengembangan metode statistik. Metode terbaru ini biasanya ada di jurnal terbaru atau di disertasi para ahli statistik. Dengan modal bahasa inggris yang pas2an, saya berusaha memahami bahasa jurnal yang ilmiah dan isinya rumus semua ituh.

Saya banyak browsing di JOS (Journal of Official Statistics). Sempet baca macam2 topik dan tertarik sama non respon tapi berhubung sepertinya banyak teman saya yang ambil topik itu, ya ga jadi deh. Lalu tertarik dengan ulasan dosen saya tentang analisis multilevel yang bisa dimix dengan analisis lain. Dan nemu jurnal tentang multilevel survival. Aaaah langsung berasa klik soalnya skripsi saya dulu memakai analisis survival. Ini pengembangannya, setidaknya saya tidak perlu belajar dari nol. Oia ini tips pertama. Kalau ga mau terlalu repot, gunakan pengembangan dari metode yang dipakai di skripsi dulu. Nah mulailah menyusun proposal penelitian.

Pertama kali bertemu pembimbing, alamak ternyata data saya gak cocok pakai analisis multilevel ini. Cocoknya pakai analisis yang mempertimbangkan desain sampel kompleks. Wah padahal saya agak alergi sama mata kuliah sampling tapi mau ga mau harus kecebur di dunia desain sampling. Hihihi. Alhamdulillah dapat pembimbing yang baiiiiiik banget dan banyak membantu. Akhirnya dapat juga jurnal utama sebagai referensi tesis saya. Berminggu-minggu saya mencoba memahami maksud jurnal ini. Saya juga konsultasi ke bagian metodologi di pusat dan mendapat banyak sekali pencerahan.

Menulis penelitian, entah tugas akhir, skripsi, atau tesis sangat membutuhkan pengorbanan dan usaha yang luar biasa. Tesis ini bikin berat saya turun 5 kilo, rambut saya rontok dan kulit saya gatal2. Hehe bener lho. Berulang kali saya merasa putus asa dan kehilangan harapan. Pembimbing 1 saya suka ngetes. Tiap bimbingan beliau selalu nanya2 dan beliau aware banget sama hal kecil dan fatal. Misalnya, saya kan mau pakai data Susenas. Nah yang saya olah hanya rumah tangga yang di dalamnya terdapat balita diberi ASI. Rumah tangga lain rencananya saya buang saja. Trus si Bapak bilang gak boleh gitu, enak banget kalau saya main buang data seperti itu. Trus si Bapak nyoret2 di kertas mungkin saja ada atau tidaknya balita diberi ASI dalam suatu rumah tangga mengikuti distribusi binomial dan saya disuruh mengaplikasikan dalam rumus penaksiran parameter model yang saya pakai!! Oh Bapak, hal ini membuat saya nangis dan berasa hopeless karena seminggu penuh dari pagi sampai malam saya googling tapi saya belum menemukan yang bapak maksud. Suami yang jadi imbas pelampiasan saya :D. Dari tesis ini saya belajar bahwa kalau kita benar-benar berusaha, insyaAllah kita akan mendapat hasil. Alhamdulillah saya nyasar ke suatu ebook yang membahas aplikasi analisis pada data hasil survei dan ternyata yang saya butuhkan adalah analisis subpopulasi. Oalah berasa nemu harta karun dan puasss banget pas saya bawa hasil itu ke si Bapak dan Bapaknya manggut2 bilang, “Ooh ada ya analisis seperti itu? Canggih euy.” Khas Pak Septi banget. Hihihi. Ga cuma sampai di situ sih, saya juga sempat pusing cari referensi tentang penentuan initial value pada newton raphson yang dipakai dalam model saya. Alhamdulillah nemu juga di ebook jadul yang tampilannya sudah usang. Kalau pembimbing 2, Pak Bertho, sabaaaaar bangettt alhamdulillah πŸ™‚

Seminar alhamdulillah saya lalui dengan lancar, dapet nilai A :). Pertanyaannya sesuai ekspektasi. Yang ga sesuai ekspektasi tuh Pak Septi sebagai pembimbing tapi ikutan nguji sayaaaa. Yang ditanya tentang penentuan initial value itu. Memang saya belum sempat setor hasil temuan saya. Ternyata si Bapak inget dan ditanyakan pas seminar. Wow banget lah. Suka kali si Bapak ngetes.

Sebelum nulis bab 4, saya harus ngolah data dulu. SPSS mah ga kepake, walaupun ada menunya. Disuruh pakai R euy yang isinya syntax semua. Nah lagi2 saya belajar, kalau kita benar2 berusaha insyaAllah kita akan menuai hasil. Dapatlah saya package R yang bisa mengakomodir metode yang saya pakai. Saya pakai gabungan antara beberapa package. Pake R itu tricky. Step by step harus bener, kalau enggak pasti keluar error. Trial dan error lah. Begitu keluar outputnya tuh masya Allah, berasa bahagiaaaa sekali.

Bab 4 dan 5 selesai sekitar dua minggu sebelum deadline pengumpulan draft tesis. Sama Pembimbing 2 udah oke. Dengan percaya diri saya datang ke Pembimbing 1. Melihat perbandingan dua metode yang hasilnya terlihat tidak beda jauh, si Bapak bilang, “Kalau begini ngapain Anda capek2 bikin model dengan pembobot kalau hasilnya sama. Percuma aja atuh, tidak ada yang spesial dari hasil yang Anda peroleh.” Bapak ini logat bicaranya Sunda yang sangat halus, tapi aaaaaargh tetep aja ucapannya membuat saya berasa terjun bebas dari gedung yang sangat tinggi. Pokoknya saya harus membuktikan bahwa apa yang sudah saya kerjakan tidak percuma! Bagaimana caranya? Nah itu yang bikin pusing. Cari sana-sini sampai kebawa mimpi. Akhirnya trial dan error berulang kali coba ngolah data per triwulan. Lagi-lagi, siapa yang bersungguh2 maka ia akan menuai hasil. Berhasil akhirnya membuktikan bahwa apa yang saya kerjakan tidak percuma. Begitu saya bawa hasilnya ke si Bapak, beliau komentar, “Wah, bagus, kok bisa kepikiran bikin yang seperti ini? Mantap ini hasilnya.” Sambil beliau mengacungkan jempol ke saya. Alhamdulillah cobaan dari Pembimbing 1 sudah dilalui :).

Pas sidang, alhamdulillah saya tuh berasa tenaaang banget. Tenang dan pasrah itu beda tipis yah :p. Walaupun pertanyaan penguji di luar ekspektasi saya banget. Yang bikin saya seneng, penguji dan pembimbing memuji slide yang saya bikin. Slide saya itu minimalis, penuh warna dan gambar. Tanpa rumus. Saya mencoba memvisualisasikan penelitian saya ke dalam tampilan slide yang menarik dan gak kaku. Ah ga percuma saya bisa menerapkan ilmu yang saya dapat dari training Slide Revolution. Bikin slide itu berasa me-time banget buat saya. Menyenangkan sekali. Oia yang pengen belajar bikin slide yang keren bisa tuh belajar sama mas Panji Priambudi. Search aja fbnya πŸ™‚

Berikut rangkuman tips dari saya, mungkin lebih pas untuk yang jurusannya statistik juga yah:

  1. Ingatlah bahwa siapa yang berusaha dan bersungguh-sungguh, maka ia akan menuai hasil. Berusaha, berdoa dan minta dukungan dari keluarga, itu penting banget buat menguatkan diri kita. Harus tahan banting banget. Tesis ini adalah salah satu pertarungan hidup *lebay*
  2. Topik tesis. Kalau mau agak mudah, cari pengembangan dari metode yang dipakai di skripsi dulu. Kalau ga mau ya cari topik baru. Penting banget adanya chemistry antara kita dan si topik. Berbulan-bulan lamanya bakal bergulat dengan si topik πŸ˜€
  3. Cari metode yang tidak merepotkan saat mengolahnya! Ini penting banget. Kecuali kamu adalah seorang yang jenius dan bisa menterjemahkan barisan rumus ke dalam syntax.
  4. Baik-baik ke pembimbing. Nurut sama saran dan masukan yang diberikan oleh pembimbing walaupun saran itu membuat kamu harus nangis darah dan berasa hopeless.

Sekian. Sukses ya buat kamu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s