Cobaan di Awal Ramadhan

Suatu pagi di Jakarta, tiga hari menjelang Ramadhan, saya bermimpi Alfath masuk rumah sakit. Di dalam mimpi itu saya menangis, dan saat saya terbangun pun mendapati mata saya sembab dan basah. Ternyata saya beneran nangis. Ah, mimpi kan bunganya tidur. Saat itu Alfath masih tertidur pulas. Saya pegang keningnya. Suhu badannya normal. Alhamdulillah cuma mimpi. Alfath sehat2 saja. Sehat terus ya sayang, nanti malam Abi datang…

Malamnya sekitar jam 11 malam, suami saya datang. Suami ingin merasakan Ramadhan pertama bersama kami setelah 2 bulan tidak bertemu. Paginya, Alfath terlihat salah tingkah karena ada Abinya. Anak ini kangen, tapi mungkin dia jadi bingung sendiri karena sudah 2 bulan ga ketemu Abinya. Biasanya cerewet dan suka nyanyi teriak2, ini mendadak jadi kalem. Suka mondar mandir di dekat Abinya tapi ga ngomong apa2. Sekitar jam 9 pagi, odong-odong langganan Alfath lewat. Biasanya setiap pagi Alfath selalu naik odong2 ditemani Utinya. Tapi pagi ini entah kenapa, rasanya saya dan suami malaaaas sekali keluar rumah. Alfath pun menangis keras karena keinginannya tidak kesampaian. Tukang odong2nya pun sudah terlanjur pergi jauh. Lumayan lama Alfath menangis. Habis menangis, Alfath terlihat lemaaas sekali, ga aktif seperti biasa. Tidur2an saja di kasur. Ditawari apa2 ga mau. Akhirnya ia pun tertidur pulas. Badannya agak hangat.

Siang harinya, suhu tubuhnya makin tinggi dan ia muntah beberapa kali. Rewelnya minta ampun, mungkin karena tubuhnya terasa tidak nyaman. Karena muntah2 itulah, akhirnya sekitar jam 2 siang saya dan suami mengajaknya berobat ke klinik 24 jam di dekat rumah. Alfath diberi obat demam, anti mual dan obat batuk. Dokter menyarankan jika setelah 2 hari masih demam, coba dicek darah di lab. Dalam dua hari itu demamnya sudah turun, muntahnya jauh berkurang namun sempat beberapa kali mimisan. Di hari ketiga Alfath sudah tidak demam, muntah dan mimisan lagi namun sepertinya belum pulih karena masih lemas sekali dan tidak mau makan.

Saya dan suami sempat berdebat karena saya merasa ada yang tidak beres dengan kondisi Alfath. Saya ingin Alfath dites darahnya. Saya takut Alfath kenapa2. Sementara suami saya tidak setuju, menurutnya Alfath sudah tidak demam lagi dan insyaAllah akan segera sembuh. Suami ga tega melihat Alfath diambil darahnya. Saya sampai menangis. Saya risau, suami besok akan kembali ke Pekanbaru sementara Alfath masih sakit dan kasihan juga sama ibu karena Alfath kalau lagi sakit begini minta digendong terus sama Utinya. Saya takut Alfath kenapa2.

Akhirnya di hari ke-4, Senin pagi, kami membawa Alfath ke lab terdekat. Alfath memang meronta dan menangis keras saat darahnya diambil. Pembuluh darah Alfath kecil dan tersembunyi, jadi mesti beberapa kali tusuk baru bisa dapat darahnya :(. Hasil tes darah hari itu, trombosit Alfath 122.000 (normal minimal 150.000). Saya ragu apakah harus membawa Alfath ke dokter lagi atau tidak. Akhirnya saya bertanya pada teman saya yang seorang dokter. Kata teman saya, kemungkinan Alfath kena Demam Dengue (belum sampai DBD). Bisa dirawat di rumah, yg penting cairannya cukup. Nah ini yang susah. Alfath ga mau makan, minum susu cuma sedikit, minum air putih pun dia ga mau. Kebetulan sorenya suami saya harus pulang ke Pekanbaru. Dengan berat hati saya melepas suami saya pergi.

Di hari ke-5, belum ada perubahan pada Alfath. Alfath makin terlihat lemas. Sore harinya Alfath saya bawa ke klinik 24 jam lagi. Saya sempat dimarahi dokter karena trombosit Alfath di ambang batas, kenapa ga langsung dibawa ke klinik lagi. Saya bilang, saya sudah berkonsultasi pada teman saya yang juga seorang dokter. Nah untuk memastikan kembali, Alfath harus tes darah ulang sore ini juga. Kuatir Alfath DBD, yang kalau penanganannya tidak memadai trombositnya bisa terus turun dan bisa menyebabkan kematian. Hasil tes darah Alfath, trombositnya 90.000 dan positif typus. Typusnya pun tubek 6 (saya kurang mengerti, mungkin ini semacam level typus. Kata dokter tubek 6 ini setara dengan level typus orang dewasa. Anak2 biasanya sudah positif typus pada tubek 4. Berarti typus Alfath tergolong sangat serius). Padahal sehari sebelumnya tidak ada typus di hasil tes darahnya. Tidak ada pilihan lain, Alfath harus dirawat malam ini juga. Saya sedih, menangis dan menyesal. Terasa berat karena suami tidak ada di sebelah saya.

Saya memilih RS Muhammadiyah Taman Puring karena dekat dengan rumah dan biayanya masih terjangkau. Malam itu, pukul 8 saya membawa Alfath ke RS. Tidak tega melihat Alfath menangis kesakitan saat dipasang infus. Dia bilang,”Udah Umi, pulang…” Ah sayang, betapa tidak tega Umi melihatmu seperti ini. Seandainya penyakitmu bisa dipindahkan ke tubuh umi…

Saya menjaga Alfath berdua dengan ibu saya. Biasanya ibu saya baru datang menjelang Isya sampai habis Shubuh. Dari pagi sampai sore saya yang menjaga Alfath sendirian. Sangat berat mengingat ini adalah bulan puasa. Saya pun takut Ibu saya sakit karena kecapean. Alfath sangat dekat dengan Utinya. Kalau ada Utinya, Alfath jadi minta digendong Utinya terus. Alfath sepertinya trauma dengan RS. Dia ga mau tidur di kasur. Dia maunya tidur sambil digendong atau dipangku. Bisa dibayangkan luar biasa capeknya kami. Pegal dan kram demi Alfath bisa tidur dengan nyenyak.

Hari ke-6 pagi, trombosit Alfath turun menjadi 86.000. Alfath makin rewel dan sama sekali ga mau makan. Minum susu hanya sedikit, minum air putih juga susah. Sorenya trombositnya masih tetap segitu. Ga tega melihat Alfath diambil darah 2 kali sehari seperti itu :(. Kedua kakinya pun bengkak. Sedih sekali melihat kondisi Alfath. Di saat seperti ini, saya harus kuat melaluinya tanpa suami.

Hari ke-7 pagi, trombosit Alfath masih rendah juga. Saya cemas. Padahal Alfath sudah diberi cairan infus untuk meningkatkan trombosit, tapi kok ya tetep aja belum naik. Kata perawat, ini wajar karena pada DBD biasanya trombosit akan mulai naik kembali pada hari ke-7. Sore harinya, trombosit Alfath meningkat sedikit menjadi 87.000. Ada sedikit harapan namun tetap saja hati ini tidak tenang. Malam harinya, tangan Alfath bengkak dan tidak bisa menerima cairan infus lagi. Infus terpaksa harus dibuka. Ga tega melihat tangan Alfath yang bengkak dengan pembuluh darah yang membiru :(. Karena tidak diinfus, Alfath diberi obat ekstra sebagai pengganti cairan infus.

Hari ke-8 pagi, Alfath terlihat jauh lebih sehat. Sudah mau makan semangka, puding, minum susu dan air putihnya sudah mulai banyak. Sudah mulai lincah jalan kesana kemari. Hasil tes darahnya pun menggembirakan, sudah 100.000 :). Alhamdulillah. Kata dokter, kalau tes darahnya sudah di atas 150.000, Alfath boleh pulang besok. Alhamdulillah, di saat saya dan ibu saya mulai teler karena kurang tidur, Alfath sudah mulai mau tidur di kasur. Tidurnya pun sudah lebih tenang. Siang harinya, saat saya menjaga Alfath sendirian, syaa merasa tubuh saya sangat lemas, kepala pusing dan berkunang-kunang seperti mau pingsan. Ingin rasanya membatalkan puasa karena sudah tidak kuat lagi, namun saya cuma punya stok air putih, tidak ada makanan. Mau beli roti ke bawah, rasanya sudah tidak kuat bangun dan ga mungkin juga Alfath ditinggal sendirian di kamar. Ga ada yang bisa dimintain tolong. Saya menelpon suami saya sambil menangis. Ya Allah, cobaanmu begitu berat. Di saat saya sudah hampir pingsan, untung saja Alfath tertidur. Saya jadi bisa ikutan tidur di sebelah Alfath. Kepala saya yang berat lumayan terasa ringan.

Hari ke-9 pagi, trombosit Alfath sudah naik jadi 169.000! Alhamdulillah ya Allah dan Alfath boleh pulang hari ini. Si kecil Alfath keluar dari RS malah makin gemuk dan berat lho, cairan infusnya bergizi kali ya.. hehehe. 4 malam menginap di RS, biaya yang dikeluarkan 4juta. Alhamdulillah uang rapel TB Umi kemarin memang rejekinya Alfath 🙂

Pengen masukin foto tapi sinyalnya jelek euy…

Hikmah yang didapat dari ujian di awal Ramadhan ini:

1. Hati2 kalau anak demam, muntah, mimisan dan terlihat lemas lebih dari dua hari. Alfath biasanya kalau demam biasa akan sembuh maksimal dalam 2 hari. Lebih dari itu, kita sebagai orangtua harus waspada. Periksa ke dokter, tes darah. Alfath sudah tergolong terlambat ditangani. Di RW kami, Alfath adalah anak ke-11 yang terkena DBD.

2. Jaga makan anak. Padahal Alfath makannya sudah sangat dijaga. Semuanya serba homemade. Ternyata eh ternyata kita mesti aware sama botol susunya, dotnya. Harus diganti 6 bulan sekali. Anak kecil biasanya suka megang macem2 dan lalu dimasukkan ke mulut. Kemungkinan Alfath kena dari situ. Tangannya tuh gratil banget dan suka susah diajak cuci tangan. Kami mendapat pelajaran berharga dari sini. Iklan sabun lifebuoy tentang cuci tangan ternyata sangat benar adanya 🙂

3. Allah tidak akan memberi cobaan diluar kemampuan hambaNya. Awalnya saya sangat risau dengan biaya RS, mengingat tetangga ada yang anaknya habis dirawat di RS dengan penyakit yang sama dan habisnya sekitar 9 juta. Pusing sekali memikirkan biaya ini, apalagi 3 hari pertama kondisi Alfath belum kunjung membaik. Eh ternyata rejeki Allah mengalir terus. Biaya RS “hanya” 4 juta, dan alhamdulillah begitu Alfath keluar dari RS, saya masih bisa membayar semua kewajiban saya (KPR, asuransi, arisan, bayar ini-itu), dan saldonya masih ada sisa yang lumayan banyak. Dan ALfath yang tadinya cuma mau nempel sama Utinya, sekarang jadi dekat juga dengan saya 🙂

Allah memang Maha Baik ya 🙂

 

Bidan, Bukan Dokter

Udah lumayan lama saya pengen nulis tentang ini. Awalnya agak takut menyinggung profesi tertentu, tapi ah saya cuma pengen sharing pengalaman aja. Soalnya ada beberapa postingan tentang ini di blog lain dan langsung diserbu dengan komen pedas. hihi.

Sebagai newbie mom, dari dulu di Pekanbaru Alfath punya langganan dsa yang oke. Oke disini karena ramah dan sangat teliti kalau memeriksa. Pasiennya pun buanyak. Nah semenjak ke Jakarta, pernah Alfath saya bawa ke dsa di RSIA di daerah Taman Puring yang deket rumah, tapi saya kurang puas. Jawaban dokter kurang meyakinkan. Katanya Alfath kemungkinan alergi telur dan ikan. Hellooo dari MPASI kan Alfath udah dikenalin telur dan ikan. Baik2 aja tuh ga ada gejala alergi. Nah kenapa baru sekarang alerginya??? Dan jawabannya pun makin ga memuaskan. Ah ya sejauh ini belum nemu dsa yang sreg deh. Malah Alfath cocok sama klinik 24 jam yang mana dokternya dokter umum yang masih muda. Dokter muda justru kadang lebih ramah dari dokter senior. Dan Ibu saya puas berkonsultasi dengan para dokter muda ini.

Nah, pas saya ke Jakarta hampir dua bulan yang lalu, ibu saya laporan kalau di lipatan tangan dan ketiak Alfath ada bentol berisi cairan. Kalau malam suka digaruk, mungkin karena gatal. Nah trus saya coba lihat kan, dan saya kaget karena di lipatan tangan Alfath ada bekas luka seperti koreng gitu dengan diameter hampir 1,5cm. Kata Ibu sih Alfath ga demam, makannya juga doyan, aktif seperti biasa. Nah rencananya sore mau saya bawa ke klinik 24 jam itu. Tapi berhubung hujan dan saya takut Alfath kenapa-kenapa, saya ikuti saran ibu untuk membawa Alfath ke rumah Bidan dekat rumah. Tetangga saya banyak yang berobat kesana, dari masih bayi sampai lansia pada berobat kesana.

Sampai sana, ada dua pasien yang menunggu. Nah pas tinggal satu pasien, datanglah seorang ibu. Herannya, pas pasien terakhir sudah pulang dan giliran Alfath, malah ibu tadi yang disuruh masuk duluan. Ehh ternyata ibu itu penjahit dan bu bidannya lebih memilih untuk nyobain baju daripada mendahulukan pasiennya. Okey deh kakak… Mulai mangkel saya.

Ibu penjahit pun pulang dan giliran Alfath masuk. Diperiksa, katanya Alfath kena cacar monyet. Trus katanya Alfath mau dikasih antibiotik (saya makin ga sreg nih, apa boleh bidan ngasih antibiotik?). Bidan itu bertanya pada saya, Alfath biasanya dikasih antibiotik apa. Saya ga inget merknya, dan ibu saya pun berinisiatif pulang ke rumah mau melihat kalau2 antibiotik Alfath masih ada di rumah untuk melihat merknya. Bu Bid itu agak jutek, katanya kalau anak yang udah biasa berobat sama dia, dia udah ngerti riwayat obat dan antibiotiknya (dalam hati: waah hebat ya bisa ingat, padahal ga ada catatan pasien sama sekali). Sambil menunggu ibu saya datang, saya ditanya2, pakai KB apa, trus kuliah apa. Katanya anaknya di Unpad jurusan farmasi, di Dipati Ukur juga. Saya bilang, setahu saya S1 di Dipati Ukur cuma ada jurusan hukum aja. Selebihnya D3 akuntansi dan S2, tapi bukan farmasi. Eh si ibu ini ngotot, padahal saya bilang, setahu saya kalau yang di gedung saya nggak ada jurusan farmasi. Eh malah saya yang diinterogasi. Akhirnya ibu saya pun datang, katanya obat Alfath sudah habis dan botolnya sudah dibuang. Yah syukur alhamdulillah, jadinya bu bid ga berani ngasi antibiotik untuk Alfath. Katanya sih cacar monyet menular, tapi lama2 bisa hilang sendiri. Eh trus bu bid memberikan obat puyer dan salep buat Alfath. Saya bertanya, apa cacarnya bisa menyebar, karena saya takut juga kalau menyebar sampai ke muka Alfath. Eh jawabannya; yah tergantung doa ibunya. Kalau doa ibunya kenceng, ga bakal nyebar, kalau doanya kurang kenceng ya bakal nambah dan menyebar itu cacar. Dan saya pun bengong mendengar jawaban sensasional itu.

Sebelum ke bidan, saya sempat mengeluhkan kelingking kiri saya yang kesemutan semenjak senam aerobik seminggu lalu. Nah sebelum pulang, ibu saya mengingatkan, jadi gak mau periksa juga. Ya sudah deh, saya tanya ke bu bid, kok kelingking saya kesemutan terus ya semenjak senam aerobik, penyebabnya apa? Trus bu bid langsung to the point aja gitu; ini mau nanya aja atau berobat sekalian? Kesel digituin, saya bilang, ya udah berobat aja sekalian. Katanya lagi, masa kalah sama nenek-nenek. Nenek-nenek aja senam ga sampe kesemutan. Males banget kan, komennya ga penting dan ga memberi solusi. Ya udah, diukurlah tekanan darah saya. Rendah tapi normal. Normalnya tekanan darah saya ya segini ini. Trus saya dikasih obat 3 macam, katanya untuk vitamin dan menormalkan tekanan darah. Nah saya bertanya dong, jadi penyebab kesemutan saya karena tekanan darah yang rendah? Eh katanya, kalau mau tahu pasti penyebabnya ya harus cek darah ke lab. Lah trus ngapain saya diperiksa dan dikasi obat sebanyak ini? Ih ga cerdas banget ya. Biaya per pasien 30 ribu, jadi total 60ribu. Hhh… 60 ribu yang percuma. Mending ke dokter sekalian, walaupun keluar ratusan ribu tapi hati puas dan yakin.

Sampe rumah, saya bener2 mangkel dan obatnya langsung saya buang. Obat Alfath juga saya buang. Saya googling dan menemukan banyak info tentang cacar monyet. Ga mesti dikasih obat juga bisa hilang sendiri. Dan bener, beberapa hari kemudian memang hilang dengan sendirinya.

Saya iseng curhat dengan teman saya yang seorang dokter. Katanya, alhamdulillah, makin banyak orang yang menyadari kalau berobat ya ke dokter, bukan ke bidan. Mungkin kalo di daerah terpencil dimana dokter susah ditemukan, oke2 aja ke bidan untuk pertolongan pertama.

Maaf ya, bukan mau memojokkan profesi tertentu. Saya cuma pengen share aja. Saya yakin ga semua bidan ngeselin seperti bidan yang saya kunjungi itu.

Ya sudah, mau kuliah dulu 🙂

(Akhirnya) Tergoda Halo Balita

Paket buku Halo Balita. Gambar minjem dari fb mbak Isa

Paket buku Halo Balita. Gambar minjem dari fb mbak Isa

Alfath udah 2 tahun 4 bulan. Selama ini kegiatannya cuma main dirumah dengan macam2 mainan seperti mobil, pesawat, kereta, dll mainan khas anak cowok. Selain itu paling nonton TV atau minta ajak jalan2 keluar rumah. Alfath lumayan kritis, saking kritisnya mainan jarang ada yang tahan lama, rusak karena dibanting atau dipreteli. Hehe

Saya mulai berpikir, apa ya yang saya ingin belikan untuk Alfath. Alfath mulai bisa mengerti cerita. Kalau sedang nonton Upin Ipin, wew seriusss banget. Alfath hobiii banget nonton TV, sementara saya dan suami kelak ingin mengapuskan benda satu itu dari daftar barang di rumah. Lantas, apa ya yang bisa berguna selain mainan?

Nah, tiba-tiba teringat pernah ada yang menawarkan buku Halo Balita dua tahun lalu. Dulu sih Alfath masih bayi banget, saya belum kepikiran beliin buku, apalagi bukunya muahaaaaal. Eh kok sekarang jadi kepikiran pengen beliin Alfath buku. Mulailah saya searching tentang buku Halo Balita tersebut daaan saya makin jatuh hati…

Pertimbangannya, pertama, saya pengen Alfath suka baca buku. Yang saya amati, anak yang dari kecil suka baca buku akan lebih cerdas dan imajinatif dibanding anak yang tidak suka baca buku. Pengalaman pribadi nih, dulu waktu kecil saya sudah langganan majalah Bobo. Perlahan saya suka membaca mulai dari bacaan yang ringan sampai berat (kecuali buku kuliah, haha). Banyak ilmu pengetahuan yang saya dapat. Cuma sayangnya karena berada di lingkungan teman yang bukan penggemar buku, saya ga punya teman sharing pengetahuan T_T

Kedua, Alfath mulai tertarik sama buku, koran, majalah. Mulai suka melihat-lihat gambarnya. Walau yang dicari gambar mobil, bajaj atau pesawat kesukaannya, tapi ini jadi titik awal yang bagus. Sayangnya Alfath kontrol dirinya masih kurang, jadinya itu bacaan jadi lecek dan sobek dan ini membuat akungnya sering ngambek sama Alfath. Hehe

Ketiga, Halo Balita isinya anak-anak banget, katanya sih bisa membantu anak-anak belajar soal moral mulai dari yang paling sederhana. Trus bukunya tahan banting. Ga bisa disobek, tahan air dan kalau dicoret bisa hapus dengan lap basah. Cocok banget buat Alfath. Gimana ga bikin mupeng?

Setelah merayu suami, akhirnya bismillah saya mulai ikut arisannya bulan Mei ini. Dapetnya bulan Juni. Saya ambil arisan selama 5 bulan sebesar 390ribu setiap bulan. Aaaaaaak ga sabar nunggu bulan Juni… 🙂

Sharenya lanjut nanti yah kalo bukunya udah dateng. Semoga bisa bermanfaat buat Alfath. Aamiin

Sebulan Jadi Ibu Rumah Tangga, Gimana Rasanya?

Kalo anaknya lagi susah makan, disuruh makan sendiri aja. Tapi mesti siap2 maemnya berantakan kemana-mana ya :D

Kalo anaknya lagi susah makan, disuruh makan sendiri aja. Tapi mesti siap2 maemnya berantakan kemana-mana ya 😀

Huhu pas menjelang libur kemarin bahagia bukan main. Bisa lepas sejenak dari UAS yang masyaAllah susahnyooo…Bisa libur sebulan penuh. Tanpa ngantor. Tanpa kuliah. Bisa full di rumah aja ngurus suami dan anak. Bisa mengantar suami kerja dan menyambut suami pulang kerja. Sounds interesting?

Minggu pertama. Masih kangen-kangenan sama rumah yang udah hampir 7 bulan ditinggal. Sibuk deh ngeluarin segala Tupperware dan peralatan masak. Dapur dan kulkas pun ‘hidup’ kembali. Saya puas bisa masak apa yang pengen saya masak, bikin kue-kue simple buat Alfath. Saat itu saya merasa enaaaaaaaaak banget jadi ibu rumah tangga. Bisa puas main ma Alfath yang masih anteng. Santai, ga ada beban. Asik lah pokoknya.

Minggu kedua. Alfath mulai susah makan. Tangan mungilnya mulai bereksplorasi. Emosinya mulai naik turun. Emosi emaknya pun mulai naik turun juga. Rumah mulai berantakan dengan segala printilan yang entah Alfath nemu dimana. Tembok pun mulai ‘bermotif’. Dan emaknya… mmm emaknya mulai galau karena bingung apa yang mau dikerjain. Mau browsing jurnal untuk tesis tapi Alfath maunya nonton lagu anak-anak terus.

Minggu ketiga. Alfath sudah sangat nempeeeeeel banget sama emaknya dan maunya gelandotan terus. Emaknya masak, Alfath minta digendong pengen liat apa yang dilakukan di atas kompor. Emaknya mandi, Alfath nangis. Emaknya pipis enggak boleh. Emaknya ngaji, Al Qurannya disuruh ditutup. Emaknya selesai shalat ga bisa doa karena langsung disuruh buka mukena. Emaknya mulai ga sabaran.dan ini berdampak ke Alfath. Emosinya jadi kurang terkendali. Alfath yang tadinya anak manis yang anteng jadi hobi mukul wajah, nggigit, jambak rambut dan melempar barang. Soal ini saya susah banget mentoleransi. Ujung-ujungnya jadi kayak dua anak kecil lagi berantem. Untung abinya sabaaaar banget menghadapi kami. Mungkin karena Alfath biasa disayaaaaaang banget sama utinya. Digendong-gendong, ditimang-timang, kalo jatuh atau kejedot dikit langsung disayang2 banget. Sementara emaknya bukan tipe emak yang begitu. Jadi mungkin ekspektasi si anak terlalu tinggi. Saya sangat sayang sama Alfath tapi beda mengekspresikannya. Saya cenderung tegas (baca: galak) dan pengen Alfath ga jadi anak yang manja. Jujur saja, saya kurang nyaman digelandotin terus kayak gitu. Mau ngapa2in syusyahnyooo. Masa mesti digendong terus. Capek deh. Sempet kepikiran, apakah saya normal? Kata ibu sih, saya mirip sama kakak saya, ga betah ngurus anak. Betah sih betah, asal saya bisa sambil ngerjain yang lain… T_T

Mungkin karena saya biasa kerja yah, jadinya ga betah di rumah terus. Bosen gitu, jenuh. Saat saya bener-bener udah ga sabar, Alfath saya titipkan di penitipan. Saya merasa bersalah melihat tatapan matanya saat saya akan mengantarnya ke penitipan. Seolah ia berucap,”Umi ga sayang ya sama Alfath? Kenapa Alfath dititipin?” Dan Alfath pun nangis saat saya tinggal. Sedih tapi ini untuk kebaikanmu nak. Hiks hiks. Trus saya ngapain di rumah? Bukannya santai-santai lho ya. Beres2, nyapu, ngepel, nyuci sprei, jemur kasur bau ompol, nyetrika. Smua yang ga bisa dikerjain karena Alfath gelendotan saya kerjain.

Makin ke akhir liburan, mood saya makin memburuk. Banyak yang mesti dipikirkan. Bawaannya jadi gak sabaran sama Alfath. Saya tahu Alfath hanya seorang anak umur 2 tahun, tapi entah kenapa kok suka ga sabar ya… T_T. Di satu sisi saya sedih liburan sudah selesai, saya sedih harus mengakhiri sebulan kebersamaan mewah kami. Tapi di satu sisi, saya lega karena Alfath bisa saya titipkan sama utinya. Mungkin lebih baik Alfath untuk sementara waktu diasuh sama utinya, soalnya emaknya labil banget…

Dan sekarang, saya disini, sendirian di kosan saya di Bandung. Saya punya banyak me-time, tapi saya malah sangat merindukan saat-saat di Pekanbaru. Biasanya jam segini saya lagi nyuapin Alfath makan siang sambil nonton video lagu anak kesukaannya. Habis makan, Alfath full tank sementara emaknya ngantuk. Nemenin Alfath nonton dan main, waktu akan berjalan begitu cepat sampai waktunya Alfath mandi dan makan sore. Trus ga lama Abi pulang kerja deh. Seneng banget saat Alfath menyambut kedatangan Abinya dengan riang. Seneng banget saat melihat Alfath dan Abinya bermain dan tertawa bersama.

Loh kok saya jadi nangis?

Ah, ternyata kebersamaan itu sungguh berkesan untuk saya. Saya ingin hidup bersama bertiga lagi, tapi bukan sebagai ibu rumah tangga 😀

Baca ini dulu sebelum mengeluh! :)

-Copas dari Grup FB Dono Baswardono Parenting. Terasa menohok banget buat saya yang hobi ngeluh ini itu, capek, bla bla bla…

TERIMAKASIH TUHAN

Tuhan, terimakasih atas piring-piring kotor ini; kami bisa sarapan, makan siang dan makan malam dengan makanan yang enak-enak dan menyehatkan.

Terimakasih Tuhan, ada sebukit cucian berbau keringat; kami sekeluarga punya pakaian indah untuk dikenakan dalam segala kesempatan.

Dan aku juga berterimakasih kepadaMu Tuhan atas ranjang yang spreinya berantakan itu; semalam tidur kami nyenyak di atas ranjang empuk dan hangat, sementara banyak anak dan manula kedinginan di luar sana.

Terimakasihku Tuhan untukMu atas kamar mandi ini, yang dilengkapi dengan cermin, sabun wangi dan handuk lembut; semuanya begitu nyaman dan menenangkan hingga aku berlama-lama berendam di dalam kehangatannya.

Terimakasih juga atas kulkas kotor yang penuh bekas jari tangan ini, yang bunga esnya begitu tebal, setia menemani kami bertahun-tahun. Kulkas ini penuh dengan minuman dingin dan makanan kaleng untuk beberapa minggu – dan sisa-sisa makanan beberapa hari ini yang tetap saja kusimpan.

Terimakasih Tuhanku atas oven yang jelas harus dibersihkan hari ini. Dia telah membakar begitu banyak makanan dan kue-kue yang disukai anak-anak.

Seluruh isi keluarga ini berterimakasih kepadaMu, ya Tuhan, atas rumput yang telah meninggi di halaman. Kami semua suka sekali bermain dan berolahraga di halaman itu. Bahkan, kami juga menjamu teman-teman kami di sana.

Tuhanku, hanya kepadaMulah kuhadirkan rasa terimakasih ini atas mobil yang sudah seminggu ini belum dicuci dan belakangan ini suka mogok. Ia telah mengantarkan kami sekeluarga menempuh ribuan kilometer suka dan duka.

Terima kasih Tuhan atas sepeda yang kini teronggok di gudang dan menunggu perbaikan. Anak-anakku yang sehat telah mengarungi petualangan mereka untuk merasuki keriangan mereka.

Tuhan, terimakasih atas meja kerja yang berantakan ini. Aku telah Engkau sanggupkan untuk menggenggam karier cemerlang ini yang membantu keluarga kami menjalani hari-hari mengasyikkan.

Tuhan, setumpuk tugas dan pekerjaan yang tengah menungguku ini membisikkan kepadaku bahwa Engkau melimpahruahkan kasih karuniaMu bagi keluarga kami. Karena itu, aku akan mengerjakan semuanya dengan hati penuh suka cita dan rasa syukur. DB

Jangan ngomel lagi ya kalo liat cucian piring numpuk :). Gambar dari mamapiadea.com

Jangan ngomel lagi ya kalo liat cucian piring numpuk :). Gambar dari mamapiadea.com

Pesan untuk Para Perempuan yang Akan dan Sudah Menikah

tumblr_ly863oeqnr1ql04weo1_1280Yang ini copas dari postingan di blognya Noveria Dwiyandari 🙂

Pesan yang saya yakin betul kebenarannya, karena memang ketiganya sangat masuk akal. Berikut kira-kira pesan beliau (dalam kalimat saya sendiri):

  1. Lakukanlah kegiatan kecil seperti membenarkan kerah baju suami, atau membenarkan posisi dasi suami.
  2. Buatlah sambal andalan, yang akan selalu diingat dan dikangeni oleh suami saat dia makan di luar atau berada di luar rumah.
  3. Jangan pernah malu untuk meminta lebih dulu dalam urusan ranjang.

Hal-hal kecil dan sederhana yang dilakukan istri seperti membenarkan kerah baju suami, atau memasangkan dasi suami tentu saja akan sangat membekas. Ini bukan hanya soal hal yang sepele, melainkan menunjukkan sebuah perhatian yang nyata, kecil, sering, dan sederhana. Tentu saja bukan hanya itu, hal-hal mudah seperti memberikan pelukan, ciuman, membelai rambut, atau mencium tangan sehabis sholat, pastinya akan terasa menyenangkan dan membuat nyaman. Jangankan bagi suami yang menerima perlakuan itu, istri yang melakukan juga akan merasa senang. Suami akan merasa disayangi, diperhatikan dan nyaman berada di rumah. Bukankah istri juga akan senang kalau merasa dirinya disayangi dan diperhatikan. Vice versa lah…

Biasanya suami kan bekerja dan pada jenis pekerjaan tertentu memungkinkan suami untuk sering makan di luar atau dinas luar. Nah, kalau saja istrinya bisa membuat sambal andalan yang rasanya maknyus, tentu saja aktifitas makan di luar-nya suami akan terasa kurang, karena gak ada sambal buatan sang istri. Tentu saja berlaku analogi, maksudnya tidak harus sambal, karena akan jadi tidak berlaku bagi suami yang gak doyan pedas. Maksudnya disini adalah istri harus mempunyai ‘sesuatu’ yang akan selalu dikangeni oleh suami pada saat dia tidak di rumah. Biasanya memang tentang makanan, karena percayalah, urusan lidah dan perut sangat tidak bisa diabaikan. Maka beruntunglah para suami yang mendapatkan istri yang jago dan rajin masak buat keluarga. Buat para istri, ayo belajar masak! Kadang semangat kita memang pasang surut, tapi yakin saja bahwa Allah pasti melihat niat dan usaha keras kita. Semoga saja diberkahi 🙂
Terakhir urusan ranjang, yang juga bukan urusan sepele. Urusan ranjang bukan cuma urusan laki-laki, bukan cuma kebutuhan suami. Kata Mamah Dedeh, istri gak usah muna deh, wong sama-sama butuh juga kok. Kalau istri hanya menunggu, yang mungkin karena malu, maka suami akan merasa kurang dibutuhkan. Makanya istri jangan malu untuk minta duluan, dengan begitu suami akan merasa dibutuhkan, merasa sama, dan kepercayaan dirinya akan meningkat. Kira-kira begitu…