(Akhirnya) Tergoda Halo Balita

Paket buku Halo Balita. Gambar minjem dari fb mbak Isa

Paket buku Halo Balita. Gambar minjem dari fb mbak Isa

Alfath udah 2 tahun 4 bulan. Selama ini kegiatannya cuma main dirumah dengan macam2 mainan seperti mobil, pesawat, kereta, dll mainan khas anak cowok. Selain itu paling nonton TV atau minta ajak jalan2 keluar rumah. Alfath lumayan kritis, saking kritisnya mainan jarang ada yang tahan lama, rusak karena dibanting atau dipreteli. Hehe

Saya mulai berpikir, apa ya yang saya ingin belikan untuk Alfath. Alfath mulai bisa mengerti cerita. Kalau sedang nonton Upin Ipin, wew seriusss banget. Alfath hobiii banget nonton TV, sementara saya dan suami kelak ingin mengapuskan benda satu itu dari daftar barang di rumah. Lantas, apa ya yang bisa berguna selain mainan?

Nah, tiba-tiba teringat pernah ada yang menawarkan buku Halo Balita dua tahun lalu. Dulu sih Alfath masih bayi banget, saya belum kepikiran beliin buku, apalagi bukunya muahaaaaal. Eh kok sekarang jadi kepikiran pengen beliin Alfath buku. Mulailah saya searching tentang buku Halo Balita tersebut daaan saya makin jatuh hati…

Pertimbangannya, pertama, saya pengen Alfath suka baca buku. Yang saya amati, anak yang dari kecil suka baca buku akan lebih cerdas dan imajinatif dibanding anak yang tidak suka baca buku. Pengalaman pribadi nih, dulu waktu kecil saya sudah langganan majalah Bobo. Perlahan saya suka membaca mulai dari bacaan yang ringan sampai berat (kecuali buku kuliah, haha). Banyak ilmu pengetahuan yang saya dapat. Cuma sayangnya karena berada di lingkungan teman yang bukan penggemar buku, saya ga punya teman sharing pengetahuan T_T

Kedua, Alfath mulai tertarik sama buku, koran, majalah. Mulai suka melihat-lihat gambarnya. Walau yang dicari gambar mobil, bajaj atau pesawat kesukaannya, tapi ini jadi titik awal yang bagus. Sayangnya Alfath kontrol dirinya masih kurang, jadinya itu bacaan jadi lecek dan sobek dan ini membuat akungnya sering ngambek sama Alfath. Hehe

Ketiga, Halo Balita isinya anak-anak banget, katanya sih bisa membantu anak-anak belajar soal moral mulai dari yang paling sederhana. Trus bukunya tahan banting. Ga bisa disobek, tahan air dan kalau dicoret bisa hapus dengan lap basah. Cocok banget buat Alfath. Gimana ga bikin mupeng?

Setelah merayu suami, akhirnya bismillah saya mulai ikut arisannya bulan Mei ini. Dapetnya bulan Juni. Saya ambil arisan selama 5 bulan sebesar 390ribu setiap bulan. Aaaaaaak ga sabar nunggu bulan Juni… 🙂

Sharenya lanjut nanti yah kalo bukunya udah dateng. Semoga bisa bermanfaat buat Alfath. Aamiin

Save Alfath!

Kehamilan. Mudah atau sulit mendapatkannya, semua ujian dari Allah.

Kehamilan. Mudah atau sulit mendapatkannya, semua ujian dari Allah.

Berawal dari obrolan dengan Ibu saya tadi pagi, “Mau beli beras malah jadi dengar gosip di warung tadi.”

“Gosip apa lagi nih? Masih pagi udah ngegosip di warung,” jawab saya.

“Anak laki-lakinya si anu, pacarnya hamil dan akhirnya dinikahkan diam-diam. Pantesan si anu ga pernah kelihatan keluar rumah lagi. Pusing katanya, banyak pikiran. Ternyata… (bla bla bla)…” Hihi males ngomongin sisi gosipnya. Cukup tau saja dan semoga bisa mengambil hikmahnya.

Beberapa hal berkelebat di pikiran saya:

1. Banyak yang bilang seperti ini: kalo orangtuanya dulu nikah karena MBA juga, biasanya anaknya juga seperti itu. entah dihamili atau menghamili. Sudah banyak contoh seperti ini. Kalau menurut saya, bukan soal karma, tapi lebih ke ketidaksiapan orangtua dalam membangun rumah tangga dan mendidik anak-anaknya, sehingga sayangnya, anak yang harusnya jadi generasi penerus yang cemerlang malah menjadi cobaan untuk orangtuanya.

2. Masih usia 19 tahun dan menikah? Iya kalau menikahnya untuk menjaga diri dan memang sudah matang justru bagus. Tapi kalau nikahnya karena pacaran dan kebablasan? Saya cuma bisa mendoakan supaya hidayah Allah menghampiri mereka. Pernikahan tidak semudah membalik telapak tangan. Apalagi beberapa bulan ke depan akan langsung punya anak. Jangankan menjadi orangtua, menjalani pernikahan sebelum punya anak juga ga mudah.

3. Pacaran itu jahat!! Pornografi itu jahat!! Jaman bebas seperti sekarang ini, pornografi beredar dimana-mana. Jiwa-jiwa muda yang tidak dibekali pendidikan agama yang kuat niscaya akan mudah goyah. Anak muda yang mestinya sedang mulai meniti jalan kesuksesan hidup malah otaknya dipenuhi pikiran-pikiran kotor. Ditambah lagi ada pacar di sebelahnya yang sama-sama lugu (baca: oon), dan bisikan syaitan, yah maka terjadilah.

4. Membaca artikel ini (Karena Bu Risma) kita sebagai orangtua harus ekstra waspada. Ya Allah, lindungilah kami semua dari hal-hal seperti itu… Bawaannya pengen meluk si Alfath, jangan sampai Alfath terjerumus…

Save Alfath!!!

Inspirasi Hari Ini

Materi kuliah model statistik nonlinier yang siap disantap :p

Materi kuliah model statistik nonlinier yang siap disantap :p

Selalu semangat deh kuliah di hari Jumat! Bukaan, bukan karena weekendnya… Karena kuliah di hari jumat adalah analisis regresi by Mr. M. Syamsuddin, sang dosen unik yang hemmm susah dijelaskan dengan kata2 deh kalo belum ngerasain diajarin sama beliau. Orang matematika tapi berotak kanan.

Suka banget dengan cara ngajarnya. Ekspresif banget mulai dari mimik muka, bahasa tubuh dan kata-kata. Suka ngasi pelesetan ngaco yang sebenernya ga asal pelesetan aja, bisa bikin kita jd makin memahami materi dengan cara yang asyik dan membahagiakan. Dan ga kepikiran deh buat megang hp saking serunya kuliah selama 2,5 jam bersama bapak ini 🙂

Bapak ini ga cuma ngajar soal kuliah aja, tapi juga banyak bercerita hal yang inspiratif, ada dakwahnya juga. Coba saya ceritakan kembali ya apa saja yang saya dapat dari beliau yang insyaAllah berguna dan bisa diterapkan.

Pentingnya Doa. Beliau bercerita kalau anaknya mentok dalam belajar atau mengerjakan soal, anaknya akan shalat dan berdoa sama Allah supaya bisa diberi kemudahan mengerjakan soal tersebut. Ga tanggung-tanggung, doanya sampe nangis lho saking khusuknya. Anak2nya memang dididik untuk selalu meminta sama Allah jika menemui kesulitan, bukan sama yang lain. Luar biasa, ini sebenarnya udah menyangkut tauhid ya.

Jangan buang waktu meladeni orang sok tahu yang tidak mau tahu. Berkerut bacanya? hehe. Maksudnya begini, beliau punya teman, sesama dosen juga yang sukanya ‘nyalah-nyalahin’ regresi. Model regresi kan terdiri dari X dan Y, dimana X adalah variabel bebas yang bisa berupa macem2 variabel dengan skala pengukuran yang berbeda2, dan Y adalah variabel dependen. Nah orang ini sukanya nyalah2in regresi itu katanya ngawur, masa macem2 variabel bebas, misalnya jumlah sapi, jumlah kerbau, jumlah ayam bisa dijumlahkan dan dijadikan satu model. Mana bisa sapi, kerbau dan ayam disamakan dan dijumlahkan jadi satu, lantas apa satuannya hasil penjumlahannya? Dosen saya yang super canggih ini tentu tahu jawabannya, tapi karena temannya ini cuma bisa nyalah2in tanpa bertanya dan mencari tahu kebenarannya, ya dibiarin aja. Biarkan saja dia hidup dengan kesalahan, karena kalau diladeni pun percuma. Ehem. Sering kan nemu orang kayak gitu? Kesel kan? Jangan kesel, pakai saja cara dosen saya ini 🙂

Cara ampuh memahami matematika. Bapak ini selalu masuk kelas dengan tangan kosong. Kalau dosen lain datang dengan membawa buku, laptop untuk menampilkan materi di viewer, beliau ga bawa apa-apa. Keren eui, bener2 menguasai materi. Dan kalo dosen lain hobi menjejali kami dengan slide dan catatan penuh dengan rumus-rumus yang aduhai ga tau dari mana asalnya dan gimana caranya, bapak ini lain. Bapak ini menekankan di konsep dasar. Benar sih, kalau konsep dasar sudah bener-bener dipahami, selanjutnya akan mudah. Jadi selama pertemuan 2,5 jam, catatan kami cuma sedikit, paling cuma 1 lembar bolak-balik. Tapi kami benar-benar paham. Kata beliau, cara paling ampuh belajar matematika adalah dengan melakukan, bukan dengan membacanya. Maksudnya melakukan adalah, misalnya ada suatu rumus. Nah kita jangan dihapalkan dan ditelan mentah-mentah itu rumus, coba tuliskan dan pahami dari mana asal rumus itu, coba diturunkan sendiri. Makin banyak berlatih mengerjakan soal akan makin mengasah kemampuan kita dan otomatis kita pun akan hapal karena rajin menuliskan. Jadi katanya sih indikator keberhasilan belajar matematika bukan di berapa halaman yang sudah dibaca, melainkan berapa jumlah kertas yang sudah dihabiskan untuk corat-coret mengerjakan soal. Interesting 🙂

Parenting: kenali bakat anak, dan gunakan untuk kepentingan anak itu sendiri. Hayoo apa lagi coba ini? Gini, si bapak bercerita kalau anak perempuannya sudah punya bakat alami dengan huruf dan kosa kata sejak kecil. Dulu, si anak ini punya banyak boneka, dan setiap boneka dinamainya dengan nama-nama unik yang indah didengar yang belum pernah sama sekali didengar oleh sang ayah. Dan dosen saya ini pun berpikir, anaknya ini punya bakat alami yang luar biasa dalam bahasa dan kosa kata. Bakat terpendam ini pun dimanfaatkan oleh sang ayah, tapi sebenarnya ya untuk kepentingan si anak ini. Misalnya saat si anak sudah beranjak dewasa dan minta dibelikan hp, sang ayah memberikan syarat, boleh beli hp merk apa saja asal si anak membuat suatu karangan yang terdiri dari 300 halaman. Dan setelah mengerjakan syarat sang ayah, dalam waktu 3 minggu hp idaman pun didapat. Tentunya disesuaikan dengan bakat si anak ya. Cara seperti ini mempan diberikan kepada anak pertamanya, namun untuk anak keduanya tidak bisa diterapkan karena anak kedua tidak berbakat di bidang bahasa seperti kakaknya. Ada juga cara lain, misalnya saat si anak meminta sesuatu, si anak disuruh berbicara dalam bahasa inggris selama 5 menit. Mungkin terdengar agak kejam ya, tapi menurut saya itu cara yang bagus. Mendidik anak untuk mempunyai jiwa juang dalam mendapatkan sesuatu.

Sedekah dan sholawat. Dosen saya ini penggemar Ust. Yusuf Mansur rupanya. Kita tentunya sudah tahu keutamaan sedekah dan shalawat yang sering disampaikan oleh Ust. Musuf Mansur (yang belum tahu googling sendiri ya). Nah beliau mendidik anak-anaknya supaya rajin melakukan hal ini. Saat anaknya ingin sesuatu, beliau mengajarinya untuk berdoa, bersedekah dan bershalawat. Walaupun pada akhirnya sang ayah juga yang memenuhi permintaan anak-anaknya ini, tapi katanya selalu saja ada rejeki dan keajaiban yang didapat sehingga memenuhi permintaan tersebut. Subhanallah, keren ya? 🙂

Tentang pendidikan formal anak. Sudah tahu kan tentang beratnya beban materi pendidikan anak jaman sekarang? Saat sekolah menjadi hal yang menyeramkan, pelajaran bejibun dan materi yang terlalu berat membebani otak.  Kebetulan dosen saya dulu S3 di Amerika dan ia memperhatikan bagaimana pendidikan anaknyadi sana. Di sana materi sekolah tidak banyak dan tidak berat, lebih menitikberatkan pada konsep dasar. Tidak pernah ada PR dan anak dididik untuk berpikir kreatif, bukannya menjadi robot kurikulum. Ehem. Waduuuh… mau saya sekolahkan di mana ya anak-anak saya nanti? -__-. No offense yah, saya juga merupakan produk kurikulum dalam negeri yang seperti itu. Memang berat sih, dipaksa untuk bisa tanpa merasa tertarik dan ga tau apa kegunaannya.

Jadiiiii intinya adalah: saya bersyukur! Bersyukur diberi kesempatan ketemu orang-orang hebat dan bisa menimba ilmu dari mereka 🙂

A Man Called My Father

Suami yang Selalu Menyediakan Hidungnya untuk Digigit Alfath :)

Suami yang Selalu Menyediakan Hidungnya untuk Digigit Alfath 🙂

Sebelumnya, ga ada maksud apa-apa tentang tulisan ini. Saya cuma ingin berbagi dan semoga bisa jadi renungan kita semua. Ini tentang hubungan saya dengan Bapak saya. Hubungan yang dari kecil sampai sekarang terasa hambar tanpa chemistry yang seharusnya antara ayah dan anak. Saya tahu Bapak sangat menyayangi saya, saya juga sayang sama Bapak. Bapak juga sebenarnya adalah tipe pria yang lembut terhadap keluarga, tidak pernah berkata kasar ataupun berperilaku kasar. Tapi entahlah, mari kita urai benang kusut ini satu per satu. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita sebagai orangtua dan calon orang tua.

Perbedaan umur kami 47 tahun. Bapak pensiun saat saya masih kelas 3 SD. Dari cerita ibu saya, bapak tidak banyak berperan dalam mengasuh anak. Ibu saya adalah IRT yang full menjaga keempat anak-anaknya di rumah. Bapak tidak pernah membantu menggantikan popok kami, memandikan kami, pokoknya bapak terima beres menggendong kami saat kami sudah wangi dan rapih sesudah mandi. Saya tidak tahu, mungkin bapak tipe yang berpandangan suami yang cari uang, istri yang tugasnya merawat anak. Hal lain yang saya ingat, bapak tidak suka bising. Namanya anak-anak kan suka main bola, terompet, dll yang berisik.  Bapak memang kaku sama anak kecil. Saya suka gemes melihat cara bapak menjaga Alfath. Sedikit-sedikit dilarang, sedikit-sedikit ga boleh. Belum apa-apa sudah dilarang. Alfath lagi anteng main, dibilang, awas jangan dilempar mainannya. Hasilnya? Ya malah dilempar itu mainan. Alfath lagi anteng makan, dibilang, awas jangan dilepeh. Hasilnya? Ya dilepehlah dan jadi ga mau makan lagi -__-

Cerita masih berlanjut saat saya mulai beranjak dewasa. Bapak bilang begini, “Bapak ini udah pensiun, ga punya uang untuk kuliah kamu nanti. Kamu pilih SMK saja supaya bisa langsung cari kerja setelah lulus”.  Saya lupa kenapa pada akhirnya saya masuk SMA, bukannya SMK. Saya pun bersekolah si salah satu SMA favorit. Teman-teman saya kebanyakan anak orang kaya. Beruntung saya punya hobi kerajinan tangan. Berdua dengan Arum, teman sekelas saya, kami pun berjualan aksesoris dari flanel. Hasilnya amat sangat lumayan. Saya bisa nabung, bisa bantu bayar sekolah, beli baju bagus, dan membayar bimbel sendiri. Saya mengerjakan pesanan flanel sampai hampir tengah malam setiap harinya. Dan bapak yang melihat saya kerja sampai tengah malam cuma bilang, “Udah jangan dipaksa, nanti capek.” Saat itu pun ibu sempat terpikir untuk membuka usaha supaya bisa menambah penghasilan, namun selalu dipatahkan oleh bapak. Bapak selalu bilang,”Nanti capek terus sakit, pokoknya nanti kalau gimana-gimana saya gak ikutan”. Dan kehidupan pun datar begitu-begitu saja.

Ada hikmahnya sekolah di sekolah favorit. Saya jadi terpacu untuk maju. Saya jadi punya keyakinan kalau saya pasti bisa asalkan mau berusaha. Maka luluslah saya di UI, jurusan Manajemen. Saya pikir, dengan saya lulus SPMB akan membuka mata bapak agar lebih berusaha agar anaknya bisa kuliah. Teman-teman saya juga ada yang dari keluarga sederhana, tapi orangtua mereka mau berusaha lebih supaya anaknya bisa sekolah tinggi. Tujuannya ya supaya anaknya bisa sukses, supaya kehidupan anaknya kelak bisa lebih baik dari orangtuanya. Nah, di saat masa-masa suka cita ini, pil pahit kembali harus saya telan. Bapak benar-benar menyerah. Hati saya hancur, kecewa, tega betul bapak menghancurkan impian saya.

Tapi Allah memang sayang sama saya.  Bapak diam-diam mencari tahu tentang sekolah kedinasan. Saya nurut walaupun sebenarnya tidak tertarik. Saya ikut tes dengan ogah-ogahan. Alhamdulillah saya lulus di salah satu sekolah kedinasan. Mungkin begitu Allah menyiapkan skenario hidup saya. Lulus dari sekolah tersebut, saya bisa langsung kerja, menikah dan alhamdulillah sekarang saya dapat kesempatan kembali melanjutkan S2 tanpa mengeluarkan biaya.

Jadi apa inti tulisan ini?

Saya ga pengen anak saya kelak merasakan kehampaan hubungan dengan orangtuanya seperti ini. Saya sebenarnya iri dengan teman-teman saya yang bisa begitu dekat dengan ayahnya, yang bisa dengan mantap menjawab bahwa ia sangat mengidolakan ayahnya. Mungkin hati saya terlanjur tertutup rapat saking bertumpuknya rasa kecewa itu.

Hai orangtua, terutama ayah, bantulah istrimu merawat dan mendidik anak-anakmu. Ini penting untuk membangun ikatan yang kuat. Anak secara otomatis pasti memiliki ikatan dengan ibunya, karena telah melewati masa 9 bulan di kandungan dan masa disusui. Berikan anak kebebasan yang bertanggung jawab, jangan sedikit-sedikit dilarang. Anak yang terlalu banyak dilarang akan merasa kesal dan malah merasa nyaman saat kau tidak ada di rumah. Ga mau kan jadi orangtua yang tidak diharapkan kehadirannya oleh anak?

Jadilah motivator bagi anak. Lumrah jika orangtua kadang merasa putus asa dan menyerah, namun jangan tunjukkan ini di depan anak. Anak yang beranjak dewasa sedang membutuhkan role model seseorang yang pantang menyerah dan gigih berusaha. Mereka sedang sangat bersemangat memulai hidup, memulai masa depannya. Jangan patahkan semangat mereka dengan keputusasaanmu.

Saya yakin, Allah punya skenario luar biasa untuk saya melalui pelajaran hidup yang tak ternilai ini. Ayo Abi, semangat! Kita harus bisa jadi orangtua yang baik anak-anak kita! 🙂

Sudahkah Aku Jadi Orangtua Shaleh?

dscf17231Rasanya sudah lamaaaaa sekali ga merasakan me-time membaca buku. Biasanya baca buku kuliah yang penuh rumus. Meh.

Kemarin pas cuci mata ke Rabbani, saya tertarik dengan buku-buku seputar dunia parenting. Soalnya saya merasa kesulitan menjadi orangtua yang baik. Sering emosi dan ga sabar. Hikshiks. Alhamdulillah nemu buku ini. Sangat recommended. Rencananya saya pengen bikin ringkasannya per bab dan saya share di blog ini. Tapi belom sempet. hehe. Berikut reviewnya dari Goodreads.

Sebenarnya,
anak bisa patuh tanpa DITERIAKI
senang berbuat baik tanpa DIMINTA
anak akan belajar tanpa DIPAKSA
anak dapat mandiri tanpa DICURIGAI
anak punya ketahanan diri tanpa DIISOLASI

Orangtua Biasa, Memberitahu;
Orangtua Baik, Menjelaskan;
Orangtua Bijak, Meneladani;
Orangtua Cerdas, Meninspirasi.

Isinya ‘dalam’ dan berkesan banget. Seperti kata salah satu testimoninya Indah Medyastuti ” kalau hati ini perlu di-cash tidak bosan bukun ini dibaca, dibaca, dan dibaca ulang.” Memang benar buku ini seperti charger yang harus dibaca, dibaca dan dibaca ketika kita sebagai orang tua merasa: kesal, marah, jengkel, (dan perilaku buruk lainnya) kepada anak. Ketika hati dan pikiran sedang “kacau”, dan anak berbuat tidak sesuai dengan yang kita inginkan, maka tak jarang omelan, cacian, makian, teriakan, bahkan pukulan ataupun cubitan mendarat di tubuh anak kita. Astagfirullah…

Setelah membaca buku ini, saya serasa diingatkan kembali bagaimana seharusnya bersikap dan berperilaku kepada anak, dengan sikap terbaik layaknya orangtua shaleh. Anak adalah anugerah, kita harus menjaga, merawat baik-baik dengan penuh cinta dan kasih sayang atas anugerah yang Allah titipkan untuk kita.

Buku ini layak sekali untuk dibaca oleh para orang tua yang menginginkan anak-anaknya shaleh shalehah…

Renungan Untuk Orang Tua

ayah-anak2

Ada beberapa artikel bagus yang bisa jadi renungan buat orangtua nih, diantaranya ini:

1. Ibu/Ayah, jangan risau apa yg belum bisa kulakukan, lihatlah apa yg sudah bisa kulakukan, lihatlah lebih banyak kelebihanku……

 2. Ibu/Ayah aku memang belum bisa berhitung, tapi lihatlah aku bisa beryanyi & selalu tersenyum ceria..

 3. Ibu/Ayah, jangan keluhkan aku tidak bisa diam, lihatlah energiku ini, bukankah kalau aku jadi pemimpin aku butuh energi sebesar ini

 4. Ibu/Ayah jangan kau bandingkan aku dengan anak lain, lihatlah aku tidak pernah membandingkanmu dengan orang tua yg lain, aku hanya satu

 5. Ibu/Ayah, jangan bosan dengan pertanyaan2ku, lihatlah besarnya rasa ingin tahuku, aku belajar banyak dari rasa ingin tau…

 6. Ibu/Ayah jangan bentak2 aku, lihatlah aku punya perasaan, seperti engkau juga memilikinya, aku sedang belajar memperlakukanmu kelak…

 7. Ibu/Ayah, jangan ancam2 aku, seperti engkau juga tidak suka diancam orang lain, lihatlah aku sedang belajar memahami keinginanmu

 8. Ibu/Ayah, jangan lihat nilaiku yang rata2 atau biasa saja, lihatlah aku mengerjakannya dengan jujur lihatlah aku sudah berusaha

9. Ibu/Ayah, aku memang belum bisa membaca, namun lihatlah aku bisa bercerita, pada saatnya aku akan bisa, aku butuh engkau percaya..

 10. Ibu/Ayah, aku memang kurang mengerti Matematika, tapi lihatlah aku suka berdoa, dan aku senang sekali mendoakan yang terbaik untukmu..

 11. Ibu/Ayah, aku memang banyak kekurangan, tapi aku juga punya kelebihan, bantu aku, agar kelak kelebihanku berguna bagi sesama..

 12. Ibu/Ayah, hubungan kita sepanjang Zaman, bantu aku mengenalmu dengan cara aku belajar bagaimana engkau mengenalku…

 13. Ibu/Ayah, aku ingin mengenangmu sebagai yang terbaik, ajari aku dengan melihat yang terbaik dariku, sehingga aku bangga menyebut Namamu ..

 14. Ibu/Ayah, semoga kita punya cukup waktu untuk saling mengenal dan memahami, aku belajar melihatmu dari cara engkau melihatku

dan ini…

Anak suka berdusta ; anda terlalu ketat mengevaluasi perbuatannya.

 Anak tidak punya rasa percaya diri ; anda tidak memberikan dorongan kepadanya.

 Anak lemah dalam bicara ; anda jarang mengajaknya berdialog.

 Anak mencuri ; anda tidak membiasakannya untuk memberi dan berkorban.

 Anak pengecut ; anda terlalu memberikan pembelaan kepadanya.

 Anak tidak menghormati orang lain ; anda tidak bicara dengan kelembutan kepadanya.

 Anak selalu marah-marah ; anda tidak memberikan pujian kepadanya.

 Anak pelit ; anda tidak menyertakannya dalam berbuat.

 Anak suka jahat kepada orang lain ; anda kasar kepadanya.

 Anak lemah ; anda menggunakan ancaman dalam mendidiknya.

 Anak cemburu ; anda mencuekkannya.

 Anak mengganggu orang tua ; anda tidak mencium atau mendekapnya.

 Anak tidak mau patuh kepada orang tua ; anda terlalu banyak permintaan.

 Anak cemberut ; anda sibuk terus.

 Anakmu adalah amanah yang harus dirawat dan dididik dengan baik.

 (DR. Thariq al Habib)

yang ini lebih pas untuk seorang anak sih, kata hati orgtua…

Anakku…
ketika aku semakin tua,,
aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku

suatu ketika aku memecahkan piring,
atau menumpahkan sup diatas meja, karena penglihatanku berkurang
aku harap kamu tidak memarahiku
orang tua itu sensitif,,,
selalu merasa bersalah saat kamu berteriak

Ketika pendengaranku semakin memburuk,
dan aku tidak bisa mendengar apa ayang kamu katakan,
aku harap kamu tidak memanggilku “Tuli!”
mohon ulangi apa yang kamu katakan atau menuliskannya
Maaf, anakku… aku semakin tua

Ketika lututku mulai lemah,
aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantuku bangun
seperti bagaimana aku selalu membantu kamu saat kamu masih kecil, untuk belajar berjalan
aku mohon, jangan bosan denganku

Ketika aku terus mengulangi apa yang ku katakan,
seperti kaset rusak
aku harap kamu terus mendengarkan aku
tolong jangan mengejekku, atau bosan mendengarkanku
apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil
dan kamu ingin sebuah balon?
kamu mengulangi apa yang kamu mau berulang-ulang
sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Maafkan juga bauku…
tercium seperti orang yang sudah tua
aku mohon jangan memaksaku untuk mandi
tubuhku lemah…..
Orang tua mudah sakit karena mereka rentan terhadap dingin
aku harap aku tidak terlihat kotor bagimu…
apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil?
aku selalu mengejar-ngejar kamu… karena kamu tidak ingin mandi
Aku harap kamu bisa bersabar denganku,
ketika aku selalu rewel
ini semua bagian dari menjadi tua,,
kamu akan mengerti ketika kamu tua

Dan jika kamu memiliki waktu luang,
aku harap kita bisa berbicara
bahkan untuk beberapa menit
aku selalu sendiri sepanjang waktu
dan tidak memiliki seorang pun untuk diajak bicara
aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaan
Bahkan jika kamu tidak tertarik dengan ceritaku
aku mohon berikan aku waktu untuk bersamamu
apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil?
aku selalu mendengarkan apapun yang kamu ceritakan tentang mainanmu

Ketika saatnya tiba…
dan aku hanya bisa terbaring, sakit dan sakit
aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku
MAAF…….
kalau aku sengaja mengompol atau membuat berantakan
aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku,
selama beberapa saat terakhir dalam hidupku
aku mungkin tidak akan bertahan lebih lama

Ketika waktu kematianku datang
aku harap kamu memegang tanganku
dan memberikanku kekuatan untuk menghadapi kematian
dan jangan khawatir, ketika aku bertemu dengan Sang Pencipta
aku akan berbisik pada-Nya
untuk selalu memberikan berkah padamu
karena kamu mencintai, ibu dan ayahmu…

Terima kasih atas segala perhatianmu, nak…
kami mencintaimu dengan kasih yang berlimpah